Kamis, 06 Desember 2012

CILS Gelar Konferensi Internasional "Human Security" 3rd di UNHAS


CILS Gelar Konferensi Internasional "Human Security" 3rd di UNHAS




Center for International Law Studies (CILS) Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) bekerjasama dengan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (FH UH) Jurusan Hukum Internasional mengadakan konferensi internasional dengan tajuk “Human Security”. Acara ini berlangsung selama dua hari, yaitu pada 26-27 November, pukul 08.00-17.30, di lantai II Gedung Rektorat Unhas tepatnya di Ruang Senat Universitas Hasanuddin dan di Fakultas Hukum Unhas tepatnya di Ruangan Video Conference H.M.LAICA MARZUKI.

Hari ke-2 International Conference – Human Security  3rd   di Unhas Selasa (27/11/12).
Konferensi ini dihadiri oleh mahasiswa dan akademisi dari 23 perguruan tinggi di Indonesia, bahkan beberapa peserta perwakilan negara dari Malaysia, India, Australia, dan Afrika Selatan juga turut serta dalam seminar internasional ke-3 CILS, yang mana sebelumnya diadakan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
           

Turut hadir dalam konferensi tersebut, Wakil Rektor I Unhas, Prof. Dr. Dadang Suriamihardja, Dekan Fakultas Hukum Unhas  Prof. Dr. Aswanto S.H, M.Si, DEM , perwakilan Jurusan Hukum Internasional Unhas, Prof. Dr. S.M.Noor, S.H., M.H. Selain itu, turut hadir pula sebagai pembicara H.E. Erna Witoelar selaku Perwakilan Khusus MDGs untuk wilayah Asia Pasifik,  Akademisi Universitas Indonesia, Prof. Hikmahanto Juwana, Ph.D, Akademisi Unhas, Prof. Hamid Awaludin, Ph.D, dan  La Ode M. Syarif SH, LL.M.,Ph.D, selain itu juga turut hadir dua orang pembicara internasional yaitu Prof. Mohamed Mowjoon Atham Bawa dari Western Sydney University Australia serta  Prof. Dr. Louis. J Kotze akademisi dari North-West University,South Africa.

            Menurut Prof. Hamid Awaludin, dalam pidato pendahuluannya menjelaskan bahwa Human Security adalah  keterjaminan akan adanya perlindungan fisik , jiwa dan kehormatan tiap-tiap individu oleh negara dimana individu tersebut berdomisili. Lebih lanjut beliau juga menjelaskan bahwa masalah  Human Security atau Keterjaminan Keamanan Pribadi akan Hak-hak yang dimilikinya adalah inti dari  Human Rights atau Hak Asasi yang dimiliki oleh tiap-tiap individu, untuk itu sangat penting untuk memahami hakikat dari  Human Rights dan Human Security.

            “Tujuan dari diadakannya konferensi internasional dengan tajuk Human Security ini adalah memberikan masukan-masukan kepada peserta konferensi tentang keberlangsungan keamanan manusia ke depannya” ujar Kadarudin, SH., MH.,DFM yang juga selaku pemateri Human Rights. “Dalam seminar tersebut dibahas empat chambers, yaitu Human Rights, Economic Rights, Social and Cultural Rights dan Environmental Rights yang pada intinya membahas tentang keamanan manusia, perlindungan manusia dari segala aspek, tambah Kadarudin saat ditemui di ruangan bagian Hukum Internasional.

Pedagang Kantin FH-UH ( Feature News )



Cerita Pedagang FH-UH



Ditengah keramaian kantin Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (FH-UH) terlihatlah seorang wanita bertubuh kecil, ia adalah Mama Dedeh (30) yang tengah sibuk menjalankan aktivitasnya sebagai pedagang di kantin FH-UH. Kepribadian beliau sangat sederhana, beliau memakai celana tiga per empat dan baju abu-abu bergaris dan selalu tersenyum ramah kepada setiap mahasiswa yang ingin berbelanja. Ditemui disela-sela kesibukannya, beliau yang sedang memanggang roti coklat itu dengan ramah menerima kedatangan kami untuk mewawancarainya.


Beliau tidak pernah berjualan di tempat atau kantin lain sebelumnya. Ini kali pertama beliau berjualan dan langsung di kantin FH-UH. Lebih lanjut beliau mengatakan, untuk berjualan disini harus meminta izin dari pengelola kantin yaitu ibu dekan/Darma wanita serta membayar uang sewa perbulan untuk dapat berjualan di kantin tersebut. Menurutnya uang sewa di sini lumayan terjangkau serta tergantung jenis jualan.
Saat ditanyakan pengalaman selama berjualan disini beliau tersenyum kemudian  menjawab “Senangnya berjualan disini karena pendapatan lumayan apalagi kalau
semester baru. Penjualan sangat bagus, kantin ramai oleh mahasiswa”. Lanjut “Pengalaman buruknya kalau ada perkelahian antar mahasiswa, suasana menjadi sangat tidak nyaman”. Perkelahian mahasiswa memang buruk, terbukti suasana negatifnya berimbas sampai ke pedagang kantin.
Kemudian ketika kami bertanya apakah ada kendala yang dialami ketika berjualan di kantin FH-UH. Beliau mengatakan terdapat beberapa kendala yang dialami oleh mama dedeh selama berjualan di kantin FH-UH.


“mungkin kendalanya utamanya adalah modal, saya sering kekurangan modal dalam berjualan.” Lebih lanjut beliau mengatakan “saya senang bisa membantu mahasiswa disini, biasanya saya membolehkan mereka berhutang pada saya kalau belum mendapat kiriman uang. Akan tetapi kadang ada mahasiswa berhutang sangat lama bahkan sampai hampir setahun. Kalau sudah begini mau tidak mau saya harus menagih. Apalagi kalau lagi banyak yang berhutang pada akhir bulan, sangat sulit karena saya hanya mempunyai sedikit modal untuk berjualan keesokan harinya”. Ungkap mama dedeh
Kendala lainnya adalah tempat tempat berjualan di kantin FH-UH ini agak sempit dari pada kantin-kantin yang berada di fakultas lain. Hal ini mengakibatkan banyak mahasiswa FH-UH yang berpindah ke kantin fakultas lain dikarenakan kantin FH-UH yang sangat padat dan ramai oleh pengunjung. “Anak-anak itu biasanya langsung pergi ke kantin lain sebab sudah tidak ada tempat duduk lagi, kantin sudah terlalu penuh. Masalahnya bukan karena jualan atau makanan yang kurang. Tetapi itu’ jumlah kursi sedikit dan luas kantin yang agak sempit”, Ungkapnya.
Harapan Mama Dedeh kedepannya, “semoga Kantin FH-UH dapat diperluas agar memudahkan pedagang seperti dirinya yang berada di kantin FH-UH agar merasa nyaman serta mahasiswa yang ingin mengunjungi kantin pun dapat dengan nyaman berbelanja dan menikmati makanan tanpa harus mennunggu tempat duduk kosong sehinga mereka tidak perlu lagi berpindah ke kantin seberang”, Ungkap Mama Dedeh.



Kompetisi Ledhak


Kompetisi Ledhak



Dalam rangka pembukaan Lembaga Debat Hukum dan Konstitusi (Ledhak) Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas), pihak Komunitas Debat Konstitusi Unhas akan mengadakan lomba desain logo Ledhak.
Bagi mahasiswa Unhas yang berminat mengikuti lomba tersebut jangan khawatir karena lomba desain logo Ledhak ini terbuka untuk semua mahasiswa Unhas.
Proses pendaftaran lomba ini telah berlangsung dan berakhir pada 30 November 2012. Pendaftaran dan pengambilan formulir peserta lomba bertempat di Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (FH-UH).

Menurut Arini Nur Anisa selaku penanggung jawab acara, “tujuan dari lomba  ini adalah mencari logo dari Ledhak, dan meresmikan komunitas debat konstitusi menjadi Ledhak pada tanggal 8 Desember 2012 mendatang”. Lebih lanjut Arini mengatakan bahwa "dari sayembara akan diumumkan pemenang pertama hingga ketiga. Dan pemenang sayembara nantinya diberi hadiah berupa tropi, sertifikat dan uang tabungan yang bertotal 12 juta rupiah.
Terdapat beberapa syarat yang harus dipatuhi peserta lomba dalam mendesain sebuah logo. Pertama harus memenuhi tema "Hukum dan Konstitusi". Kedua, file desain logo dikumpulkan dalam format softcopy dan hardcopy, dicantumkan filosofi logo berupa warna, simbol dan unsur-unsur logo, serta identitas peserta, yang terakhir file softcopy desain logo dapat dikirim ke email: ledhak_hukumunhas@yahoo.co.id

Eksepsi Vs S8obet


Eksepsi Vs Sbo8et




Selasa, (27/11) pukul 15.30 WITA bertempat di lapangan bola Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (FH-UH) berlangsung pertandingan Liga Hukum FH-UH. Pada sore itu, berlangsung pertandingan sengit antara Eksepsi FC (LPMH) dengan Sbo8bet FC.  Pertandingan ini merupakan final untuk mencari satu tim untuk menuju pertandingan final Liga Hukum (FH-UH).

Menurut Arfandi Haris Raharjo (angkatan 2010)  selaku ketua panitia Liga Hukum Unhas, pertandingan pada awalnya berlangsung imbang. Namun, tim eksepsi kekurangan satu strikernya di pertandingan sebelumnya karena mendapat kartu merah. Hal ini mengakibatkan tim Eksepsi sangat kesulitan untuk menembus pertahanan sbo8et FC yang pada sore itu performa permainannya merata.

Pertandingan tersebut dimulai pada pukul 15.30 WITA sampai dengan 16.30 WITA. Pertandingan berlangsung selama 2X25 menit dan 10 menit waktu istirahat selama pertandingan. Lebih lanjut beliau menjelaskan, Liga Hukum sendiri adalah pertandingan yang berkelas dan merupakan liga yang cukup terpandang di lingkungan Universitas Hasanuddin (UH). Yang mana, beberapa pemainnya adalah pemain yang berasal dari beberapa klub bola bergengsi di indonesia.


Cerpen - Nilai Tito Bukan "0" Lagi

Oleh : Amita Kalasuso








NILAI TITO BUKAN “O” LAGI
Oleh : Amita Kalasuso



Amita Kalasuso
Duduk di sebuah gedung besar yang disebut baruga, memakai  jubah hitam dan toga di kepalanya, berkumpul dengan ratusan calon wisudawan, merupakan hal yang masih sulit dipercaya  oleh Tito. Pria kurus berumur 22 tahun itu kini telah menyelesaikan pendidikannya di fakultas hukum Universitas Hasanuddin selama kurang dari 4 tahun.  Matanya melirik sebuah angka 05 yang tertempel di kursi seorang peserta wisuda. Tito mulai mengingat kejadian beberapa tahun lalu, o dan 5 merupakan angka-angka yang mendorongnya sehingga dapat duduk di ruangan ini.

            Tito kecil hanyalah seorang bocah berkulit gelap terbakar yang menghabiskan waktu sepulang sekolahnya dengan bekerja sebagai pencari barang bekas untuk membantu ibunya, seorang janda yang bekerja sebagai tukang cuci keliling di pinggiran kota Makassar. Penghasilannya digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolahnya. Tapi karena terlalu lelah bekerja dan tak memiliki fasilitas yang memadai, sekolah Tito tak berjalan dengan mulus. Seringkali ia kedapatan tertidur dan selalu mendapat nilai 0 disetiap ujian. Tito mulai putus asa, ia mulai berpikir untuk memberitahukan ibunya kalau ia ingin berhenti sekolah dan bekerja saja. Tapi ia tahu ibunya pasti menolak, ibunya sangat ingin melihat Tito bisa bersekolah, tidak seperti dirinya yang buta huruf karena tak pernah mengenyam bangku sekolah.
Hingga suatu hari, ketika Tito kecil baru pulang bekerja, ia mendapati ibunya sedang menangis di kamar Tito. Awalnya ia heran melihat wanita tua bertubuh kecil yang berambut sebahu itu menangis, namun tak lagi setelah tatapannya melihat beberapa lembar kertas yang ada di tangan ibunya. Semuanya adalah lembar hasil ujian Tito selama ini yang disembunyikan dari ibunya karena semua nilainya 0. Walaupun ibunya seorang yang buta huruf, tak bisa membaca lembar-lembar itu, tapi ia tahu apa maksud angka 0  bertinta merah yang berada di pojok atas kertas-kertas itu. Tito mulai takut, membayangkan ibunya akan marah karena tak belajar dengan baik padahal ibunya sudah menambah cucian yang harus dikerjakan agar bisa mendapatkan penghasilan yang lebih untuk sekolahnya. Namun ibunya justru memanggil Tito, memeluk anaknya dengan erat dan meminta maaf. Tetes air matanya semakin bertambah saat memeluk tubuh Tito, “ maaf nak, karena tidak bisa ka’ bayar sekolahmu harus ko juga kerja, tidak sempat miko belajar karena kau mau  bantu  mama’... oh kasian...”. Tito kecil yang saat itu berumur delapan tahun, ikut terlarut dalam tangisan ibunya.
Sejak saat itu,ibunya tak pernah lagi mengizinkan Tito bekerja, ia juga meminjamkan buku pelajaran anak tetangga yang menjadi pelanggan jasa cucinya untuk dipakai Tito belajar. Satu minggu sejak hari itu, saat Tito menantikan nilai ujian matematikanya, ia sangat bahagia melihat kertas ujian yang dibagikan ibu gurunya. Wanita berjilbab itu juga senang melihat nilai Tito yang sedikit  meningkat. Sepulangnya dari sekolah, orang pertama yang ia cari adalah ibunya , di tangan mungilnya ia memperlihatkan sebuah kertas ujian yang di pojoknya ada nila lima “5” bukan lagi nol “0”. Walaupun nilainya belum benar-benar bagus, ibunya sudah bangga melihat anaknya itu.
Kebanggan yang terlihat di raut muka ibunya, menjadi motivasi Tito saat itu untuk menjadi lebih baik lagi, lagi, dan lagi ,dan kini dengan usaha yang dilakukan ibunya beberapa tahun lalu, akihirnya ia bisa menjadi siswa terbaik dan mendapatkan beasiswa , begitu juga saat kuliah di fakultas hukum dengan beasiswa berprestasi yang diterimanya ia bisa lulus dengan IPK yang tinggi sekaligus menjadi lulusan terbaik saat itu. Memperlihatkan pada ibunya , bahwa usaha ibunya tak sia-sia. (Ak).


 
Header image by sabrinaeras @ Flickr